Kamis, 09 Juli 2026

Menelisik Perjalanan Ferdinand dan Archibald Dalam Menguak Memoar yang Buram

Saat melihat novel Mémoires de la Forêt karya Mickaël Brun-Arnaud, yang ku bayangkan adalah buku ini pasti berisi dongeng anak-anak. Bagaimanapun, menurutku sampulnya sangat menjelaskan hal itu. Ada dua hewan dengan ilustrasi yang lucu dan menggemaskan seakan mengatakan 'Ini adalah buku yang menyenangkan, ayo baca!' sangat sesuai dengan selera anak-anak. Tapi, tentu tidak baik untuk menilai semuanya dari sampulnya saja. Ini bukan hanya perumpamaan kosong, nyatanya buku ini cukup menampung makna yang mendalam meskipun alur ceritanya sangat ringan dan lucunya, menggunakan hewan sebagai tokoh. Kurasa buku ini sangat cocok diberikan untuk anak dibawah 10 tahun untuk meningkatkan minat bacanya.

Terlebih.. Aku benar-benar penasaran, bagaimana kalau semua ilustrasi di buku itu dibuat berwarna semua. Akan jadi se-magical apa ya?

Dari sinopsisnya, buku ini berisi tentang kisah perjalanan dua hewan yang bersahabat untuk mendapatkan kembali sebuah buku autobiografi yang ditulis sendiri oleh Ferdinand si Tikus Mondok. Dan sayangnya, Ferdinand terjangkit penyakit Lupa Segala. Mungkin dalam bahasa kita, penyakit itu sama seperti Alzheimer. Segala hal perlahan menghilang dari ingatan Ferdinand termasuk semua memori indahnya mengenai keluarga kecilnya. Inilah mengapa FerdinandSi pemeran utama ngotot untuk mendapatkan buku itu kembali dan entah karena rasa bersalah atau karena tidak tega pada sahabatnya, ArchibaldSi Rubah pemilik toko buku ikut mengantar Ferdinand untuk menyusuri beberapa lokasi berdasarkan lembaran foto yang terdapat catatan tanggal serta alamatsatu-satunya petunjuk yang dipunya oleh Ferdinand untuk mendapatkan buku dan memoarnya kembali.

Pada bagian awal, cerita berfokus pada perkenalan Archibald selaku pemilik toko buku yang menjadi setting awal dari alur yang diciptakan. Archibald dibuat dengan sikap yang sangat berdedikasi pada toko buku peninggalan keluarganya. Selanjutnya Ferdinand datang dengan linglung dan akhirnya mulai menjadi pemicu terjadinya perjalanan cerita. Jujur, aku sangat terpukau bagaimana penulis dapat menjabarkan perilaku khas orang yang terjangkit penyakit lupa dengan detail. Sosok Ferdinand memang mengagumkan, tapi tak ayal pula tingkahnya saat kembali 'lupa' acap kali membuatku merasa kesal, padahal perasaanku ini tidak benar mengingat Ferdinand seringkali berperilaku linglung seperti itu karena sakit. Dan secara emosional, respon Archibald lebih bijaksana dalam menghadapi Ferdinand dibandingkan dengan aku. Archibald benar-benar memperlakukan Ferdinand dengan sangat baik disaat sadarnya ataupun disaat tantrumnya datang karena panik tidak mengingat apapun. Dan... Ini agak oot, tapi i just wanna say, 'Hats off' untuk para caregiver dari orang-orang yang memiliki penyakit lupa ini. Setiap harinya pasti tidak mudah, tapi kalian tetap memiliki hati yang luas untuk merespon dan memperlakukan mereka dengan baik.

Dari keseluruhan novel ini, tidak ada satupun yang berperilaku buruk kecuali tentang kebohongan dan itupun punya alasan yang yah.. Cukup emosional buatku. Inilah kenapa aku menyarankan anak-anak bisa membaca buku ini, selain karena ilustrasinya banyak, sikap dan ucapan para karakternya pun sangat bagus. sangat soft spoken. Dan meskipun karakter di novel ini berupa hewan dan berlatarkan hutan, tapi hirarki disana tidak berlaku. Karnivora, Herbivora dan Omnivora semua bercampur seakan menjadi satu spesies. Dan yang kusuka adalah penulis bahkan menjelaskan untuk keperluan pembelian, mereka menggunakan biji-bijian sebagai alat tukar.

Perjalanannya yang ditempuh oleh kedua sahabat itu tidak terlalu panjang. Semua teringkas dengan tepat dan padat. Meskipun ada beberapa flashback dipertengahan, tetap tidak mengganggu. Tempat yang dikunjungi hanya beberapa dan tempat-tempat tersebut dapat membuat Ferdinand teringat kembali dengan masa lalunya. Terlebih, semuanya berkaitan dengan Maude. Mencengangkannya, sosok Maude ternyata sangat diingat oleh banyak karakter. Sungguh sangat luar biasa.

Kesannya seperti.. 'Meskipun sosokmu tidak ada, tapi kenanganmu selalu membekas bagi mereka.'

Awalnya ku pikir, Ferdinand telah ditinggalkan. Merasa terpuruk karena ditinggalkan Maude—istrinya hingga akhirnya terkena penyakit Lupa Segalanya. Seperti... Penyakit itu tidak hanya muncul karena usia, tapi juga karena efek psikis yang terguncang. Namun menjelang akhir, ternyata tebakanku tidak sepenuhnya salah. Ferdinand memang telah menyimpan rasa bersalahnya selama puluhan tahun. Hingga penyakit itu menguburkan segala rasa pedihnya secara perlahan.

Ada beberapa plot twist yang mulai terkuak dari lembar ke-150/170an. Seperti keberadaan istri Ferdinand, siapa pembeli buku memoarnya, kenapa Ferdinand selalu membawa setengah cangkang biji kenari di punggungnya dan misteri pintu biru yang akhirnya terkuak bersamaan dengan bertambahnya informasi yang belum pernah disebutkan oleh narasi Ferdinand. Syukurnya, semua terjawab dengan baik saat menuju akhir. Baik Maude ataupun Ferdinand, aku rasa keduanya sangat beruntung menemukan satu sama lain. Cinta mereka sangat luas dan hangat. Dan aku merasa lega disaat akhir buku, Ferdinand tidak lagi sendirian dirumahnya. Ending yang bahagia untuk semua karakter dan segala kesalahpahaman terselesaikan dengan baik.

Intinya, buku ini sangat heartwarming. Sangat cukup untuk dibaca dalam sekali duduk dan disaat waktu luang. Akan lebih bagus ketika cuaca sedang hujan rintik-rintik dan ditemani oleh secangkir teh hangat atau kopi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar