Selasa, 09 September 2025

Karyaku Sebagai Penulis Terpilih

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah beberapa kali mengikuti lomba menulis. Meskipun kemampuanku masih dibawah rata-rata, entah kenapa aku tetap PD aja mengikuti itu semua.😂 Lalu, pada tahun 2019 ada satu naskah cerpen (cerita pendek) yang berhasil membuatku menjadi 'Penulis Terpilih'. Here the proof⤵

Aku yakin merasa cukup bangga saat itu. Namun, setelah beberapa tahun berlalu dan aku membaca ulang... Wow, kok bisa ya? Dengan tata cara penulisan seperti ini aku menjadi 'Penulis Terpilih'? Karena jujur saja, agak berantakan.. Hehehe.. 
Mungkin perasaanku ini sama seperti orang-orang yang malu karena postingan masa lalunya sangat 'cringe' ketika dilihat ulang beberapa tahun kemudian. Tapi jujur saja, hal ini membuatku sadar kalau beberapa tahun ini aku telah banyak belajar sehingga dapat menyadari bahwa ada banyak celah dikaryaku tersebut.
Kali ini, aku ingin menunjukkan naskah tersebut disini. Naskah asli dengan sedikit edit dari segi penggambaran suasana (karena yang sebelumnya cukup belibet untuk dipahami), tanda baca ataupun struktur kalimat.

Soo.. Check the box:

Kakek Ladang Jagung

Kala itu nirwana perlahan terurai bagai ampas, tak terhitung pula jelaga-jelaga yang tengah berayun tanpa arah, kabut pekat dengan bau pahit menusuk hidung dan mencekik paru tanpa ampun. Hingga lembah yang dulunya hijau kini telah tertutup lumpur hitam penuh limbah. Warna alam perlahan pudar tak lagi cerah, tergantikan dengan warna gelap yang secara paksa menutup mata dan hati manusia.

Pertanyaanku yang selama ini tersimpan mengenai perasaan ‘mereka’ yang dipaksa melepaskan tanah yang dimiliki untuk pembangunan industri-industri lokal maupun multinasional terjawab disaat Kakek Ladang Jagung menceritakan kisahnya padaku.

.

Saat itu, langit berubah kelabu. Tidak ada gemuruh petir yang biasa mengiringi, namun rintik-rintik gerimis telah jatuh membasahi ladang. Angin bersemilir ringan, menepis pelan pondokan kayu dipinggir ladang. Aroma khas tanah yang bercampur dengan aroma lain menguar disegala penjuru, membuat hidungku mengerenyit dengan bau asing itu. Aku mencoba mengabaikan perasaan risih itu dengan mengalihkan fokusku pada rintik tipis air yang mulai membuat genangan-genangan kecil diatas tanah.

“Dulu, bau hujannya tidak seperti ini.” Kakek berucap kering. Paham dengan hal apa yang membuatku risih sejak tadi. Kepalanya menengadah pada langit, seakan menerawang masa lalu yang membuatnya tersenyum tiba-tiba.

Aku mengikuti arah pandangnya, tepat diujung ladang terdapat asap yang entah bagaimana masih mengepul tinggi meskipun telah dirujam oleh gerimis. Aku hanya tersenyum menanggapi.

“Kamu dari mana, Nduk?” Kakek bersuara kembali, membuatku menoleh kearahnya.

“Dari kota, Kek. Kuliah.” Aku jawab dengan senyum manis yang sopan.

Kakek itu mengangguk. Lalu mengalihkan pandangannya ke ladangnya lagi. Aku termenung sesaat, baru kusadari jika ladang yang kurang dari dua hektar ini terbentang diantara dua bangunan besar. Aku menghela nafas pelan. Melirik wajah kakek yang terlihat sendu.

“Pasti sulit ya, Kek. Menjaganya?” Aku bertanya pelan. Aku mengerti, kakek lah satu-satunya orang yang mempertahankan ladangnya di desa ini. Jika bukan karena gerimis yang datang tiba-tiba, aku tidak akan berteduh dipondokan kecil milik kakek. Itu karena lokasi ladang kakek yang tertutup pagar rumput tinggi dipinggiran jalan.

Kakek menggeleng pelan, “Mereka hanya terus datang.” Ucap kakek yang ternyata memahami apa yang kumaksud. “Padahal kakek sudah sering marah-marah. Tapi mereka bebal.” Tambahnya lagi diselingi tawa pelan.

Aku ikut tersenyum. “Kakek sayang sekali ya dengan ladang ini?”

Kakek menghela nafas berat, “Ya begitulah.” Jawabnya. “Ini peninggalan abah, sampai kakek wafat nanti, tidak ada yang boleh merebutnya dari kakek.”

Aku terdiam. Kulihat raut wajah kakek yang penuh tekad dan sedih disaat yang sama. Aku paham sekarang, kakek bertahan karena tanah ini adalah peninggalan ayahnya.  Hatiku tercubit tatkala membayangkan banyak orang yang mengharapkan kakek tiada agar lahan ini bisa diambil alih.

“Kakek sudah tua. Kakek ingin mengenang masa muda kakek disini sampai kakek tidak bisa keladang lagi.” Ucapnya dengan lirih.

Nafasku tersendat seketika. Aku tidak tahu harus berkata apa, aku ingin menyemangati kakek, namun aku takut menyinggung perasaannya. Sekali lagi aku hanya menunduk menatap tanah basah yang tak jauh dari kakiku. Lalu aku melirik deretan jagung muda yang mulai tumbuh.

“Diana ingat, Kek. Disini dulu hutan, ada banyak ladang dipinggirnya.” Aku mencoba membahas apa yang kuingat dulu setiap kali melewati area ini untuk pergi ke kota. “Jalan disana juga masih tanah, belum diaspal seperti sekarang.” Ucapku lagi.

Tanpa kusangka, kakek terkekeh pelan. Dia mengangguk dengan antusias. “Ya, dulu asri sekali disini. Setiap kakek selesai merawat jagung dan pohon buah, kakek duduk disini menatap hutan, banyak burung berkicau, sesekali kakek lihat rusa berkeliaran. Sekarang entah pergi kemana mereka semua.” Kakek termenung sesaat sebelum kembali tersenyum.

Aku mengangguk menyetujui. Sebelum banyak perusahaan membangun gedungnya di desa ini, semua asri dan minim polusi. Setiap hujan, tercium aroma petrichor* yang murni tanpa ada bau lain yang mengganggu pernafasan. Rasa yang menenangkan hati itu tidak pernah kulupakan meskipun aku sudah jarang sekali pulang.

“Tapi kakek senang akan ada banyak lapangan pekerjaan dengan adanya perusahaan-perusahaan ini. Setidaknya warga desa ini tidak harus berkebun terus-terusan.” Ucap kakek seraya tersenyum.

Aku tersenyum saat itu, membayangkan betapa tegarnya hati kakek. Mempertahankan ladang yang terus-menerus diminta hak miliknya pasti sulit, belum lagi kakek harus mengurus tanamannya sendiri. Sebenarnya kehadiran ladang hijau kakek bagai penengah diantara kepulan asap polusi hasil sisa produksi ini.

Setelah itu, gerimis hilang sepenuhnya. Menyisakan genangan kecil dimana-mana. Aku bergegas pamit pada kakek dan berterima kasih karena sudah mengizinkanku berteduh di pondokannya. Saat itu, aku tidak menyadari bahwa percakapanku dengan kakek tidak akan bisa terulang lagi.

Aku tersenyum sedih sesaat. Teringat percakapanku dengan kakek kala itu. Rasanya baru kemarin aku bertemu dan bercengkrama dengannya. Membicarakan perubahan alam akibat pertumbuhan zaman.

 Entah sudah berapa menit berlalu namun aku masih berdiri menatap orang-orang yang berlalu lalang membangun sebuah gedung disebrang jalan. “Ternyata kakek sudah menyerah.” Gumamku pelan. Menatap nanar lokasi itu.

“Diana! Ngapain, sih?” Tepukan pelan dibahu kananku membuat kenangan itu terbuyar.

Aku menunjuk pada pembangunan gedung diseberang jalan. “Pemiliknya akhirnya menjual ladangnya, ya?” Tanyaku. Membuat Rika—sahabatku mengerenyit heran. Kali ini aku pulang bersamanya, setelah sekian lama aku berkutat dengan pekerjaanku di kota, aku memutuskan untuk pulang ke desa dan menjenguk keluargaku. Selama itu pula aku terlupa akan Kakek Ladang Jagung dan baru teringat tatkala aku melintasi jalan ini.

“Oh—“ Rika mengangguk. “Ladang kakek jagung, ya? Dia sudah meninggal 1 tahun yang lalu. Lalu keluarganya melepas ladang itu.”

Mendengar ucapan Rika, tiba-tiba perkataan kakek tergema dikepalaku.

‘Kakek sudah tua. Kakek ingin mengenang masa muda kakek disini sampai kakek tidak bisa keladang lagi.’

Aku menghela nafas, keinginan kakek sudah terlaksana. Kakek tetap menjaga ladang itu hingga ajal menjemputnya. Kakek ladang jagung mengajarkanku untuk tetap bertahan pada pilihan yang kita pilih. Seberat apapun rintangan yang selalu menginginkan kita untuk menyerah, kita harus tetap mempertahankannya hingga jiwa kita tidak bisa lagi menopang raga.

Kenangan kecil tentang seorang kakek tua yang tetap bertahan diantara gempuran pembangunan telah tersimpan dengan apik didalam ingatanku. Sebagai sebuah tanda bahwa Kakek Ladang Jagung pernah ada didalam kisahku. Meskipun kakek dan ladangnya sudah tiada, namun kisahnya akan tetap menjadi kenangan bagi warga desa dan tentunya bagiku.

END

*Petrichor = Aroma alami yang dihasilkan saat hujan jatuh di tanah kering.

Nah, inilah karyaku~ Sangat singkat, namun sebisa mungkin aku menyelipkan sedikit makna yang mendalam. Bagaimanapun cerita yang baik adalah cerita yang mengandung makna. Setiap orang memang memiliki presepsinya sendiri terhadap sebuah karya, namun semoga untuk karyaku ini tidak menghasilkan banyak penilaian negatif.

Sejujurnya, menulis sebuah cerpen adalah tantangan buatku karena writerblock sangat sering berlalu-lalang. Meski begitu, aku akan terus mencoba untuk selalu mengasah skill menulis ini agar bisa berguna untukku dan juga orang lain. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca, kritik dan sarannya akan ku terima sebagai pembelajaran yang sangat bernilai untukku. 😊




Tidak ada komentar:

Posting Komentar