Kakek Ladang Jagung
Kala itu nirwana perlahan terurai bagai ampas, tak
terhitung pula jelaga-jelaga yang tengah berayun tanpa arah, kabut pekat dengan
bau pahit menusuk hidung dan mencekik paru tanpa ampun. Hingga lembah yang dulunya
hijau kini telah tertutup lumpur hitam penuh limbah. Warna alam perlahan pudar
tak lagi cerah, tergantikan dengan warna gelap yang secara paksa menutup mata
dan hati manusia.
Pertanyaanku yang selama ini tersimpan mengenai perasaan
‘mereka’ yang dipaksa melepaskan tanah yang dimiliki untuk pembangunan industri-industri
lokal maupun multinasional terjawab disaat Kakek Ladang Jagung menceritakan
kisahnya padaku.
.
Saat itu, langit berubah kelabu. Tidak ada gemuruh
petir yang biasa mengiringi, namun rintik-rintik gerimis telah jatuh membasahi
ladang. Angin bersemilir ringan, menepis pelan pondokan kayu dipinggir ladang. Aroma
khas tanah yang bercampur dengan aroma lain menguar disegala penjuru, membuat
hidungku mengerenyit dengan bau asing itu. Aku mencoba mengabaikan perasaan risih
itu dengan mengalihkan fokusku pada rintik tipis air yang mulai membuat
genangan-genangan kecil diatas tanah.
“Dulu, bau hujannya tidak seperti ini.” Kakek berucap
kering. Paham dengan hal apa yang membuatku risih sejak tadi. Kepalanya
menengadah pada langit, seakan menerawang masa lalu yang membuatnya tersenyum
tiba-tiba.
Aku mengikuti arah pandangnya, tepat diujung ladang
terdapat asap yang entah bagaimana masih mengepul tinggi meskipun telah dirujam
oleh gerimis. Aku hanya tersenyum menanggapi.
“Kamu dari mana, Nduk?”
Kakek bersuara kembali, membuatku menoleh kearahnya.
“Dari kota, Kek. Kuliah.” Aku jawab dengan senyum
manis yang sopan.
Kakek itu mengangguk. Lalu mengalihkan pandangannya ke
ladangnya lagi. Aku termenung sesaat, baru kusadari jika ladang yang kurang
dari dua hektar ini terbentang diantara dua bangunan besar. Aku menghela nafas
pelan. Melirik wajah kakek yang terlihat sendu.
“Pasti sulit ya, Kek. Menjaganya?” Aku bertanya pelan.
Aku mengerti, kakek lah satu-satunya orang yang mempertahankan ladangnya di desa
ini. Jika bukan karena gerimis yang datang tiba-tiba, aku tidak akan berteduh
dipondokan kecil milik kakek. Itu karena lokasi ladang kakek yang tertutup
pagar rumput tinggi dipinggiran jalan.
Kakek menggeleng pelan, “Mereka hanya terus datang.”
Ucap kakek yang ternyata memahami apa yang kumaksud. “Padahal kakek sudah
sering marah-marah. Tapi mereka bebal.”
Tambahnya lagi diselingi tawa pelan.
Aku ikut tersenyum. “Kakek sayang sekali ya dengan
ladang ini?”
Kakek menghela nafas berat, “Ya begitulah.” Jawabnya.
“Ini peninggalan abah, sampai kakek wafat nanti, tidak ada yang boleh
merebutnya dari kakek.”
Aku terdiam. Kulihat raut wajah kakek yang penuh tekad
dan sedih disaat yang sama. Aku paham sekarang, kakek bertahan karena tanah ini
adalah peninggalan ayahnya. Hatiku
tercubit tatkala membayangkan banyak orang yang mengharapkan kakek tiada agar
lahan ini bisa diambil alih.
“Kakek sudah tua. Kakek ingin mengenang masa muda
kakek disini sampai kakek tidak bisa keladang lagi.” Ucapnya dengan lirih.
Nafasku tersendat seketika. Aku tidak tahu harus
berkata apa, aku ingin menyemangati kakek, namun aku takut menyinggung
perasaannya. Sekali lagi aku hanya menunduk menatap tanah basah yang tak jauh
dari kakiku. Lalu aku melirik deretan jagung muda yang mulai tumbuh.
“Diana ingat, Kek. Disini dulu hutan, ada banyak
ladang dipinggirnya.” Aku mencoba membahas apa yang kuingat dulu setiap kali
melewati area ini untuk pergi ke kota. “Jalan disana juga masih tanah, belum
diaspal seperti sekarang.” Ucapku lagi.
Tanpa kusangka, kakek terkekeh pelan. Dia mengangguk
dengan antusias. “Ya, dulu asri sekali disini. Setiap kakek selesai merawat
jagung dan pohon buah, kakek duduk disini menatap hutan, banyak burung
berkicau, sesekali kakek lihat rusa berkeliaran. Sekarang entah pergi kemana
mereka semua.” Kakek termenung sesaat sebelum kembali tersenyum.
Aku mengangguk menyetujui. Sebelum banyak perusahaan
membangun gedungnya di desa ini, semua asri dan minim polusi. Setiap hujan,
tercium aroma petrichor* yang murni
tanpa ada bau lain yang mengganggu pernafasan. Rasa yang menenangkan hati itu
tidak pernah kulupakan meskipun aku sudah jarang sekali pulang.
“Tapi kakek senang akan ada banyak lapangan pekerjaan
dengan adanya perusahaan-perusahaan ini. Setidaknya warga desa ini tidak harus
berkebun terus-terusan.” Ucap kakek seraya tersenyum.
Aku tersenyum saat itu, membayangkan betapa tegarnya
hati kakek. Mempertahankan ladang yang terus-menerus diminta hak miliknya pasti
sulit, belum lagi kakek harus mengurus tanamannya sendiri. Sebenarnya kehadiran
ladang hijau kakek bagai penengah diantara kepulan asap polusi hasil sisa
produksi ini.
Setelah itu, gerimis hilang sepenuhnya. Menyisakan
genangan kecil dimana-mana. Aku bergegas pamit pada kakek dan berterima kasih
karena sudah mengizinkanku berteduh di pondokannya. Saat itu, aku tidak
menyadari bahwa percakapanku dengan kakek tidak akan bisa terulang lagi.
Aku tersenyum sedih sesaat. Teringat percakapanku
dengan kakek kala itu. Rasanya baru kemarin aku bertemu dan bercengkrama
dengannya. Membicarakan perubahan alam akibat pertumbuhan zaman.
Entah sudah
berapa menit berlalu namun aku masih berdiri menatap orang-orang yang berlalu
lalang membangun sebuah gedung disebrang jalan. “Ternyata kakek sudah
menyerah.” Gumamku pelan. Menatap nanar lokasi itu.
“Diana! Ngapain, sih?”
Tepukan pelan dibahu kananku membuat kenangan itu terbuyar.
Aku menunjuk pada pembangunan gedung diseberang jalan.
“Pemiliknya akhirnya menjual ladangnya, ya?” Tanyaku. Membuat Rika—sahabatku
mengerenyit heran. Kali ini aku pulang bersamanya, setelah sekian lama aku
berkutat dengan pekerjaanku di kota, aku memutuskan untuk pulang ke desa dan
menjenguk keluargaku. Selama itu pula aku terlupa akan Kakek Ladang Jagung dan
baru teringat tatkala aku melintasi jalan ini.
“Oh—“ Rika mengangguk. “Ladang kakek jagung, ya? Dia
sudah meninggal 1 tahun yang lalu. Lalu keluarganya melepas ladang itu.”
Mendengar ucapan Rika, tiba-tiba perkataan kakek
tergema dikepalaku.
‘Kakek sudah
tua. Kakek ingin mengenang masa muda kakek disini sampai kakek tidak bisa
keladang lagi.’
Aku menghela nafas, keinginan kakek sudah terlaksana.
Kakek tetap menjaga ladang itu hingga ajal menjemputnya. Kakek ladang jagung
mengajarkanku untuk tetap bertahan pada pilihan yang kita pilih. Seberat apapun
rintangan yang selalu menginginkan kita untuk menyerah, kita harus tetap
mempertahankannya hingga jiwa kita tidak bisa lagi menopang raga.
Kenangan kecil tentang seorang kakek tua yang tetap
bertahan diantara gempuran pembangunan telah tersimpan dengan apik didalam
ingatanku. Sebagai sebuah tanda bahwa Kakek Ladang Jagung pernah ada didalam kisahku.
Meskipun kakek dan ladangnya sudah tiada, namun kisahnya akan tetap menjadi kenangan
bagi warga desa dan tentunya bagiku.
END
*Petrichor = Aroma alami yang dihasilkan saat hujan jatuh di tanah kering.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar