Warn: Some spoiler~
I try my best to explain my thought without spilled too much spoiler. Don't blame me.
Kemarin aku baru saja selesai membaca novel Pasta Kacang Merah karya Durian Sakegawa. Seperti judulnya, cerita ini diawali oleh pasta kacang merah. Kupikir, novel ini hanya menyajikan tips atau resep dalam menyajikan pasta kacang merah (isian dorayaki) saja. Tapi nyatanya, pasta kacang merah tidak satu-satunya menjadi masalah utama karena kisah dari masing-masing karakter sangat relate dengan kehidupan nyata. Semua diceritakan bagai air mengalir.
Dalam kisah ini, banyak hal yang diangkat oleh sang penulis, salah satunya yaitu tentang wabah, isolasi, kehilangan keluarga, diskriminasi, hingga stereotip masyarakat terhadap penyintas. Tidak terduga, kan? Berawal dari kegagalan seseorang dalam membuat pasta kacang merah menguar menjadi kisah seorang penyintas Hansen. Diselingi pula dengan plot lain yang tidak jauh dari realita kehidupan. Menurutku, karya ini cukup epik karena isu-isu sosial dapat dikemas menjadi satu dengan pasta kacang merah sebagai benang merahnya.
Keadaan salah satu karakter yang kesulitan untuk dapat diterima oleh masyarakat membuatku tersadar, kalau ternyata keadaan didalam novel tersebut tidak ada bedanya dengan keadaan di dunia nyata. Banyak penderita dan penyintas penyakit menular yang saat ini masih berjuang untuk dapat hidup normal didalam society. Karena stigma sebagai penderita/penyintas penyakit menular menempatkan mereka pada ruang isolasi tak terbatas. Seperti penyakit Hansen, Lepra atau dalam bahasa Indonesia dapat disebut Kusta. Penyakit tersebut adalah penyakit kulit dan saraf tepi yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae yang dapat menyebabkan cacat fisik seumur hidup jika terlambat ditangani. Ini merupakan sebuah informasi baru untukku.
Penyakit inilah yang dialami oleh Tokue, seorang nenek yang mahir dalam membuat banyak kudapan tradisional. Kusta telah merenggut jari-jarinya hingga Tokue harus hidup dengan jari bengkok seumur hidupnya. Karena cacat fisik itulah ia mendapatkan stigma negatif meskipun sudah belasan tahun mendapatkan diagnosa sembuh dari penyakit Kusta. Pada masa tua-nya, Tokue tetap tinggal di sanatorium karena ia tidak lagi dapat menemui keluarganya. Dulu, Tokue mungkin masih merasa senang karena masih dapat membuat banyak kudapan. Bagaimanapun, saat itu Tokue adalah anggota Divisi pembuat kudapan di sanatorium. Tapi, semenjak aturan mengenai isolasi ini dihapuskan, divisi-divisi tersebut sudah tidak ada lagi. Maka dari itu, tokue tertarik dengan kedai dorayaki yang di pimpin oleh Sentaro. Sedikit berharap bahwa ia dapat membuat kudapan lagi.
Karakter lain, yaitu Sentaro juga memiliki kesulitan hidupnya sendiri. Dia memiliki hutang budi kepada pemilik kedai. Maka dari itu ia tetap menjalankan toko meskipun tidak ada peningkatan pembeli secara signifikan. Sentaro tidak bisa membuat pasta kacang merah dan hanya mengandalkan membeli pasta kacang merah yang sudah jadi. Sosok Sentaro yang kubayangkan adalah sosok yang hanya melakukan sesuatu yang harus dilakukan saja. Selayaknya mati segan, hidup tak mau. Mungkin karena Sentaro pernah memiliki catatan kriminal dan juga alcoholic sehingga ia merasa tidak lagi memiliki motivasi untuk berambisi, maka dari itu hidupnya monoton, tidak bisa beranjak dari Dora Haru. Jika aku bisa tebak, perasaannya mungkin seperti.. Ingin mencari dunia lain, tapi tidak bisa.. Hingga Tokue datang dan mengajarkan ilmu-ilmu baru. Mulai dari pertemuan itu, hubungan mereka mulai terbentuk menjadi pertemanan. Bagiku, kehadiran Tokue-lah yang membuat Sentaro memiliki keinginan untuk berjuang sekali lagi pada dorayaki dan pasta kacang merah. Setiap hari, keinginannya menjadi semakin kuat untuk bisa mempertahankan Dora Haru dan berkembang bersamanya.
Satu-satunya yang ku sesalkan dari ending Pasta Kacang Merah adalah Tokue yang 'berpulang' dengan menyimpan rasa bersalah pada Sentaro dan Wakana. Tokue menganggap bahwa dirinya telah memberikan harapan pada Sentaro yang saat itu tengah mengalami kesulitan karena pemilik kedai bersikukuh untuk mengubah isi menu. Dan Tokue merasa bersalah pada Wakana karena telah melepaskan Marvy (burung yang dititipkan Wakana pada Tokue) begitu saja tanpa berdiskusi dulu dengan Wakana. Aku rasa, Tokue berhak mendapatkan ending yang lebih baik dari ini. Bukan hanya Tokue, tapi semua penyintas Hansen berhak mendapatkannya. Tapi, semua itu tidak dituliskan dalam ending...
Atau mungkin penulis hanya ingin memberi isyarat bahwa kebahagiaan para penyintas Hansen belum sepenuhnya terwujud hingga saat ini? Maksudku, bagaimanapun saat itu banyak penderita yang sudah mengalami perubahan fisik karena keterlambatan penanganan dan belum tersedianya obat. Sementara pada saat ini obat untuk penyakit Kusta sudah tersedia dan juga ilmu pengobatan sudah lebih baik. Namun, apakah orang² yang telah mengalami 'kecacatan' karena penyakit itu masih mendapatkan stigma dari masyarakat hingga saat ini?
Aku juga sempat mengira bahwa akan ada alternatif ending lain yang akan muncul, seperti Sentaro yang akhirnya mulai membangun kedainya sendiri, menciptakan semuanya dari awal dengan menu utama: acar sakura serta dorayaki pasta kacang merah. Lalu, Wakana yang bekerja paruh waktu di toko Sentaro tersebut. Rasanya percuma 'kan kalau 'Tokue muda' hanya datang ke mimpi Sentaro untuk mengajarkan pembuatan acar sakura tapi pada akhirnya tidak ada perkembangan lagi setelah itu? Sepertinya konsep akhir yang diberikan oleh penulis memang open ending alias pembaca bebas menciptakan akhir yang diinginkan untuk Sentaro dan Wakana dari clue-clue yang dijabarkan dalam novel.
Untuk novel ini aku akan memberikan nilai penuh. Karena sebelumnya aku tidak tahu sama sekali mengenai penyakit Hansen dan juga wabah besar yang mendera Jepang pada awal abad ke-20 itu. Berkat novel ini aku mengetahui garis besar dari kesulitan yang dialami para penderita. Sebenarnya, aku tidak tega untuk membayangkannya, dari penjelasan Tokue saja rasanya sudah sangat menyayat hati. Berpuluh-puluh tahun berada di sanatorium pun pasti menyesakkan. Tapi, kisah ini membuat empati-ku pada penyintas dan juga penderita penyakit menular semakin bertambah. Mereka sudah kesulitan dengan penyakitnya, aku tidak ingin mereka semakin menderita karena tekanan sosial juga. Terima kasih penulis Durian Sakegawa! Anda telah memberikan pengetahuan baru pada saya dengan cara yang indah serta menyuguhkan beragam rasa pada pasta kacang merah. Sungguh brilliant 👏.
Sosok kuat karakter Tokue tidak akan pernah saya lupakan. Begitu juga kisah Sentaro dan Wakana yang masih harus menjalani kehidupan dengan motivasi baru berkat sosok Tokue. Sungguh, kisah ini adalah sebuah perjalanan yang hangat dan juga memorable. ♥️
Tidak ada komentar:
Posting Komentar